468x60
Breaking News
Loading...
Minggu, 20 April 2014

Jeewan Chanicka

Kebingungannya yang luar biasa tentang orang-orang, mendorong Jeewan Chanicka untuk memulai suatu perjalanan spiritual pada usia yang sangat muda. Saat itu, usianya 10 tahun dan pencariannya terus berlanjut.

Jeewan kecil bukan anak biasa. Sepanjang ingatannya, ia telah mencari makna hidup itu. Mengapa aku di sini? Apa tujuan saya? Menjadi pertanyaan yang terus ia renungkan. Itulah yang membuatnya berbeda dari anak-anak lain. "Mengapa? Tuhan tidak menciptakan orang hanya untuk mengisi ruang di bumi," begitu kalimat yang sering bergema di telinganya. Chanicka memulai pencariannya dari dalam diri dan perlahan mengeksplorasi jawaban dari orang-orang di sekitarnya.

Jeewan Chanicka mosque


Sebagai seorang anak, ia menjadi korban bullying. Namun, ada satu hal yang selalu ia yakini. Dia tidak ingin orang lain mengalami hal yang sama dengannya. Chanicka tidak bisa marah, karena itu ia menjadi frustrasi. Keadaan itu memotivasinya memahami mengapa orang-orang melakukan hal itu. Dia terus mengamati kata-kata dan tindakan orang di sekitarnya.

Dia menyadari tujuan hidup bisa relatif dan berubah-ubah sesuai dengan keadaan, faktor lingkungan, dan perasaan. Namun, dia telah menemukan tujuan hidup berasal dari sumber Ilahi, dalam parameter dan dengan pemahaman yang jelas atas tanggung jawab pribadi kepada Sang Pencipta.

Karena dibesarkan dalam keluarga Hindu-Kristen, Chanicka mempunyai perspektif yang luas dalam melihat dunia dibandingkan anak-anak pada umumnya. Ia menamatkan pendidikan dasarnya di sekolah Hindu dan melanjutkan pendidikannya di sekolah Katolik.

Pada satu titik ia menemukan jawabannya. Dia menyadari adanya suatu kerangka hidup yang menjelaskan inti dari kehidupan sehari-hari adalah ibadah. Dan, itu didasarkan pada hubungan yang independen dengan Allah.

Dia berpikir hubungan itu menyerukan tanggung jawab pribadi dan Allah menginginkan manusia menjadi pemimpin. Dalam Islam, segala hal yang dilakukan bukan demi Allah pada akhirnya hanyalah sia-sia.

Tindakan yang dilakukan untuk mendapatkan ketenaran, pengakuan, dan bahkan untuk perasaan yang lebih baik tidak akan berlangsung selamanya. Hal itu bisa saja membawa manfaat bagi manusia di dunia, tapi belum tentu di akhirat.

Keislamannya mendapat reaksi keras dari keluarga.

"Sebaliknya, saya mengerti Tuhan memanggil kita agar mengangkat diri kita sendiri. Tindakan yang kita lakukan akan dihakimi, bukan oleh hasil, tapi oleh niat. Saat manusia tidak melihat, Tuhan selalu melakukannya," kata Chanicka.

Pada usia 11 tahun, dia menjadi seorang Muslim. Bukan pilihan yang mudah baginya karena dia takut akan reaksi keluarga. Sebenarnya, keluarganya mendukung setiap pilihan yang dibuatnya, tapi bukan Islam.

Keluarga menilai Chanicka memiliki potensi. Dia pandai dan bisa menjadi orang sukses. Dia takut keluarga menganggapnya membuang-buang potensi diri dengan memeluk Islam.

Sang ibunda khawatir putranya akan menjadi Muslim militan yang akan membunuh orang atas nama Allah. Selama tujuh tahun ia menyembunyikan keislamannya dari keluarga. Sulit bagi keluarga menerima kenyataan itu, tapi akhirnya keluarga memahami pilihan hidupnya.

Dalam renungannya, Chanicka menyadari menjadi seorang Muslim di tengah kondisi dunia saat ini tidaklah mudah. Menjadi Muslim saat ini adalah seperti memakai label bertuliskan "musuh". Namun, ia menguatkan dan meyakinkan diri. Ia telah bertekad untuk hidup dan mati demi Allah.

Menurutnya, Muslim perlu memahami untuk mengharapkan rahmat-Nya, manusia harus welas asih. Saat kita memberi kasih sayang kepada orang lain, kasih sayang juga akan datang kepada kita.

Dia percaya, dalam arti yang sangat nyata, Tuhan menempatkannya di bumi untuk memenuhi misi Ilahi, yakni membela kebenaran dan keadilan bagi semua orang, terlepas dari apakah mereka Muslim atau Yahudi, hitam atau putih, dan kaya atau miskin. Menjadi Muslim adalah menjadi sebuah mercusuar cahaya dan kasih sayang bagi orang miskin dan tersingkir dalam kehidupan.

Setelah menjadi Muslim, Chanicka menanamkan pada dirinya ia harus menjadi duta kasih sayang karena ini adalah ciri khas Islam. Semua tindakan yang ia lakukan semata-mata untuk kesenangan Allah.

Ia mengaku mencontoh teladan Rasulullah SAW yang meski buta huruf mampu menjadi seorang pemimpin yang kuat. Chanicka juga mencontoh perbuatan baik dengan mempelajari kisah-kisah para nabi.

Untuk mencapai cita-citanya, ia kini menjadi seorang guru. "Semakin saya memikirkan Islam, semakin saya mengerti tujuan saya dan semangat mengajar untuk memenuhi tujuan itu. Dengan bantuan Tuhan, saya bisa dan akan membuat perbedaan," ujarnya dengan mantap.
Keislamannya mendapat reaksi keras dari keluarga.

"Sebaliknya, saya mengerti Tuhan memanggil kita agar mengangkat diri kita sendiri. Tindakan yang kita lakukan akan dihakimi, bukan oleh hasil, tapi oleh niat. Saat manusia tidak melihat, Tuhan selalu melakukannya," kata Chanicka.

Pada usia 11 tahun, dia menjadi seorang Muslim. Bukan pilihan yang mudah baginya karena dia takut akan reaksi keluarga. Sebenarnya, keluarganya mendukung setiap pilihan yang dibuatnya, tapi bukan Islam.

Keluarga menilai Chanicka memiliki potensi. Dia pandai dan bisa menjadi orang sukses. Dia takut keluarga menganggapnya membuang-buang potensi diri dengan memeluk Islam.

Sang ibunda khawatir putranya akan menjadi Muslim militan yang akan membunuh orang atas nama Allah. Selama tujuh tahun ia menyembunyikan keislamannya dari keluarga. Sulit bagi keluarga menerima kenyataan itu, tapi akhirnya keluarga memahami pilihan hidupnya.

Dalam renungannya, Chanicka menyadari menjadi seorang Muslim di tengah kondisi dunia saat ini tidaklah mudah. Menjadi Muslim saat ini adalah seperti memakai label bertuliskan "musuh". Namun, ia menguatkan dan meyakinkan diri. Ia telah bertekad untuk hidup dan mati demi Allah.

Menurutnya, Muslim perlu memahami untuk mengharapkan rahmat-Nya, manusia harus welas asih. Saat kita memberi kasih sayang kepada orang lain, kasih sayang juga akan datang kepada kita.

Dia percaya, dalam arti yang sangat nyata, Tuhan menempatkannya di bumi untuk memenuhi misi Ilahi, yakni membela kebenaran dan keadilan bagi semua orang, terlepas dari apakah mereka Muslim atau Yahudi, hitam atau putih, dan kaya atau miskin. Menjadi Muslim adalah menjadi sebuah mercusuar cahaya dan kasih sayang bagi orang miskin dan tersingkir dalam kehidupan.

Setelah menjadi Muslim, Chanicka menanamkan pada dirinya ia harus menjadi duta kasih sayang karena ini adalah ciri khas Islam. Semua tindakan yang ia lakukan semata-mata untuk kesenangan Allah.

Ia mengaku mencontoh teladan Rasulullah SAW yang meski buta huruf mampu menjadi seorang pemimpin yang kuat. Chanicka juga mencontoh perbuatan baik dengan mempelajari kisah-kisah para nabi.

Untuk mencapai cita-citanya, ia kini menjadi seorang guru. "Semakin saya memikirkan Islam, semakin saya mengerti tujuan saya dan semangat mengajar untuk memenuhi tujuan itu. Dengan bantuan Tuhan, saya bisa dan akan membuat perbedaan," ujarnya dengan mantap.


0 komentar:

Poskan Komentar

 
Toggle Footer